Demokrasi dan Pilihan Kita

“Democracy is a device that ensures we shall be governed no better than we deserve”

Itu kata George Bernard Shaw. Intinya, anda bebas memilih pemimpin yang anda inginkan. Tentu saja kualitas hidup anda sebagai rakyat nantinya akan sangat tergantung pada kedewasaan dan kecerdasan anda dalam memilih. 

Pada jaman Orba, kita bisa menyalahkan sistem politik yang menghasilkan pemimpin yang korup. Tapi sekarang kita nggak punya alasan untuk menyalahkan siapapun. Negara memfasilitasi pilkada yang bebas dan tanpa paksaan.

Banyak yang sebal ketika Anis Baswedan bilang bahwa dalam pilkada ini orang bebas memilih dengan alasan apapun. Tapi menurut saya dia benar. Hanya saja seharusnya dia menambahkan “…karena toh para pemilih sendiri yang menanggung konsekuensinya.” 

Jadi silakan memilih pemimpin daerah dengan alasan kesamaan agama, suku, hobi, atau klub sepak bola. Toh anda sendiri yang nantinya akan menikmati kinerja pilihan anda tersebut.

Terima kasih kepada beberapa daerah yang telah memberikan contoh seperti apa konsekuensi pilihan yang salah. Mulai dari kas daerah yang kosong, pelayanan publik yang memble, sampai dinasti korup yang menggurita.

Apakah rakyat yang didholimi oleh kepala daerah yang mereka pilih perlu dikasihani?

Rasanya sih nggak perlu.

Satu, karena itu pilihan mereka sendiri.

Dua, karena tidak semua orang benci disakiti. Makanya muncul istilah masokisme.

Jadi, warga Jakarta, selamat memilih dengan bijak. Kalo pilihan anda menang tapi kinerjanya ngaco, jangan komplain, because that’s what you deserve. Yang boleh komplain itu saya, orang Tangsel yang bekerja di Jakarta dan harus pasrah pada pilihan anda.

Saya cuma bisa berdoa, semoga kecerdasan Jakarta berbanding lurus dengan gayanya selama ini.

Posted in Uncategorized

Diam

Yth. para die-hard simpatisan parpol,
Tahukah anda, banyak orang yang sebenarnya tidak terlalu peduli dgn parpol. Mereka adalah orang2 yg tidak akan anda lihat ikut kampanye di GOR Senayan karena punya pekerjaan yg lebih penting untuk dilakukan. Mereka juga cuek ketika anda mencaci neolib, sekuler, fundamentalis, bahkan golput, meskipun mereka tahu itu bodoh. Mereka lebih suka menonton bola, membicarakan film terbaru, atau mengikuti temuan terbaru mengenai partikel bossom ketimbang berdebat mengenai politik.
Lalu orang2 seperti anda menuduh mereka apolitis dan golput, hanya karena mereka tidak mengajak balita2nya kampanye.

Atau hanya karena mereka berolok-olok mengenai pemilu di media sosial. 

Atau hanya karena mereka tidak “mengamini” endorsement anda terhadap parpol tertentu. 

Tapi dalam banyak kasus sih biasanya karena anda “mencium” pilihan mereka berbeda dg anda.
Nah, ijinkan saya menyampaikan hal ini kepada anda. Jika mereka tidak bergerak, bukan berarti mereka diam. Kalau masih belum paham juga, cobalah belajar membedakan antara “action” dan “motion”. 

Tidak semua yg diam itu tidak peduli.  

Tahukah anda, banyak dari para pendiam ini yg marah karena ada parpol yg bernafsu membubarkan KPK? Sebagian dari mereka membuat pagar manusia di sekeliling KPK ketika polisi mengepung lembaga ini. 

Tahukah anda, banyak dari mereka yg geram karena penjahat HAM maju jadi presiden? Sebagian dari mereka kehilangan keluarganya dalam kerusuhan 1998 (dan anda sibuk mendikotomikan HAM versi Amerika atau bukan). 

Mengertikah anda, banyak orang yg sebenarnya marah karena isyu SARA dibawa-bawa dalam Pemilu?

Kalau masih belum mengerti juga, ya sudahlah…  jangan salahkan partai pilihan anda. Bisa jadi partai anda memang payah, tapi dalam hal ini mungkin kemampuan empati anda yg perlu diperbaiki.

Oya, satu saran lagi, hati-hati, tidak semua yg diam itu sedikit.

Posted in Uncategorized

Pemimpin Harus Tegas?

Pemimpin harus tegas?

Sebelum menyatakan setuju, saya harus tahu apakah definisi kita mengenai “tegas” sama. 

Bu Risma bersikap tegas ketika dia menutup Dolly, tapi alangkah salahnya kita kalau melihat penutupan ini hanya pada saat hari eksekusinya. Kita perlu membaca pergulatan batin beliau, memahami dilema antara empati dan kepentingan yg lebih besar, dan bagaimana keputusan sulit ini akhirnya diambil. Ini tentu beda dengan “tegas” versi gerombolan preman yg melihat ini seperti program komputer, haram maka harus ditutup. Titik.

Kita boleh tidak suka, tapi hal yg sama juga dilakukan oleh Jokowi ketika memimpin Solo. Dia sadar pedagang harus ditertibkan, apapun risikonya. Yang membedakan adalah, sebelum penertiban dilakukan dia mengundang mereka makan siang puluhan kali, sampai tercapai kesepakatan. Itu buang-buang waktu dan biaya? Well, itu tergantung seberapa mahal anda menilai harga diri manusia.

Seorang kepala negara pernah mengatakan, “A leader who doesn’t hesitate before he sends his nation into battle is not fit to be a leader.” 

Saya yakin, kalau pemimpin seperti ini kemarin ikut nyapres, dia akan di-bully oleh haters karena dianggap “tidak tegas”. Apa boleh buat, hari-hari ini ketegasan memang hanya diukur dari keberanian menempeleng orang, memaki bangsa lain, dan “memurnikan” ajaran.

Menurut saya ketegasan hanya pantas dibanggakan kalau ia datang bersama kebijaksanaan. Tanpa itu, kita hanya akan mendapatkan tiran. Mungkin kita perlu merenung sejenak sebelum kembali mengkampanyekan ketegasan. Karena kalau sesederhana itu yg kita inginkan, Hitler dan Stalin pun pemimpin yg tegas.

Posted in Uncategorized

“Saksi Kunci” – Sebuah Resensi

Saya sudah terbawa bahkan ketika saya baru saja membaca bagian pengantar buku ini. Metta Dharmasaputra, mantan wartawan TEMPO, menuliskan secara menarik pengalamannya melindungi Vincent Amin Sutanto, “whistle blower” dalam kasus penggelapan pajak Asian Agri. Anda bisa mengikuti “petualangan” Metta, Vincent, dan intel KPK mulai dari Singapura sampai ke Jakarta. Juga bagaimana operasi senyap yang diduga dilakukan oleh Asian Agri mampu menembus batas-batas birokrasi, kebebasan pers, bahkan pengadilan. Jika anda tidak suka “sad ending”, jangan khawatir, cerita dalam buku ini berakhir bahagia, kok, sekalipun bukan tipe “happily ever after” seperti buku-bukunya HC Andersen.

Kita sering membaca berita tentang kasus pencucian uang dan penggelapan pajak, tapi tidak banyak orang tahu bagaimana kasus-kasus tersebut diinvestigasi dan apa saja tantangannya. Melalui buku ini kita dapat memahami pergulatan para investigator negara melawan korporasi raksasa yang, entah kebetulan atau tidak, “terbantu” oleh polisi, jaksa, dan pengadilan. 

Jika anda termasuk orang yang skeptis terhadap aparat Pajak karena kasus Gayus, anda perlu menyimak bagaimana penyidik-penyidik pajak dalam kasus ini bekerja keras menghadapi pengacara-pengacara Asian Agri, Kejaksaan, bahkan pengadilan yang vonisnya tidak mencerminkan nama lembaganya. Di tengah-tengah terpaan reputasi negatif mereka beradu strategi untuk mendapatkan bukti dan membawa kasus ini ke pengadilan. Negara ini pantas bangga dengan persistensi mereka dalam bekerja.

KPK juga menunjukkan peran yang luar bisa, sekalipun akhirnya kasus ini ditarik karena dianggap tidak memenuhi unsur korupsi. Mereka berhasil melindungi Vincent dari kejaran para detektif sewaan dan “menyelundupkan”-nya keluar Singapura, untuk diperiksa di tanah air. Membaca detail aksi mereka benar-benar seperti menonton film Jack Ryan yang digabung dengan “The Untouchables”.

Tidak mungkin membahas buku ini tanpa menyinggung Metta sebagai salah satu pemeran utama dan TEMPO, media yang menugaskannya melakukan peliputan. Keduanya memang terhitung “gila”. Metta berkali-kali diteror karena kasus ini. Dia juga harus melakukan banyak hal di luar kewajiban jurnalistik-nya untuk memastikan keselamatan Vincent di dalam penjara. TEMPO bahkan sampai digugat karena memuat berita mengenai kasus ini.

Selesai membaca buku ini saya sadar, pengusaha hitam dan akses terhadap kekuasaan adalah kombinasi mematikan yang dapat menghancurkan negeri ini perlahan-lahan. Tapi apa yang dilakukan oleh Metta, TEMPO, para penyidik DJP, dan KPK memberi kita harapan bahwa kita belum kalah. Masih banyak orang baik yang tak bisa dibeli dan tidak akan tinggal diam melihat penjarahan uang rakyat. Mereka memerlukan dukungan kita, itu saja. Saya sendiri akan mengingat ini ketika memberikan suara saya besok pagi.

Posted in Uncategorized

Pribumi Mbahmu!

Pribumi? Pribumi mbahmu!

Kalian itu cuma keturunan homo sapiens yang hijrah dari Afrika 80.000-50.000 tahun yang lalu. Buyutmu memang pemberani, karena dulu nekat menyeberang ke Eurasia dan menjelajah sampai ke Asia Tenggara. Tapi jangan ngimpi mereka adalah pemilik nusantara sejak dulu.

Kecuali macan jawa adalah nenek moyangmu, kita ini sama-sama cuma pendatang dari Afrika yang dalam perjalanan sempat bercampur dengan orang polynesia, arab, cina dan mungkin bule.

Mulane rasah pecicilan, su!

Posted in Uncategorized

“A Little Thing Called Fairness”

Kampanye pilkada baru berjalan beberapa bulan, tapi kerja mulia yang dilakukan Anies Baswedan selama bertahun-tahun tiba-tiba habis tak bersisa di mata sebagian pendukung Ahok.

Nasib Panji Pragiwaksono juga tak lebih baik. Dia yang selama ini dianggap sebagai satu dari (sangat) sedikit selebriti cerdas dan idealis tiba-tiba dicaci maki seperti pesakitan.

Kemana perginya “sense of fairness” kita?

Memang kalo dicermati pembunuhan karakter semacam ini bukan cuma terjadi dalam pilkada. Dulu, ketika KPK mencokok pemuka agama penerima suap para fanboys langsung berteriak menghakimi. KPK dituduh masuk angin lah, tebang pilih lah, antek rejim lah. Kemudian fesbuk dipenuhi dengan gosip-gosip konspirasi yang entah dipungut dari portal mana. Sedihnya, tuduhan semacam itu dilontarkan hanya karena yang dilakukan KPK tidak sesuai dengan harapan dan keinginan mereka, bukan karena adanya bukti-bukti yang kuat.

Kembali ke kasus pilkada, menurut anda, bagaimana perasaan anak-anak SD di pulau-pulau terpencil yang pernah didatangi guru dari Indonesia Mengajar ketika anda mencaci Anies? Sama halnya, bagaimana perasaan mereka yang mengenal Buya Syafei Maarif sebagai pribadi yang bersahaja ketika ada yang memaki beliau hanya karena ijtihad yang berbeda?

Memangnya anda mau disamakan dengan beberapa teman fesbuk saya yang dulu benci Anies karena dukungannya terhadap Jokowi tapi sekarang mengelu-elukan dia karena melawan Ahok? Kalo saya sih males banget.

Mestinya teman-teman saya ini bertanya kepada diri sendiri, kenapa Tuhan selalu ikut membenci orang-orang yang mereka benci dan menyukai orang-orang yang mereka sukai? Itu cuma kebetulan, atau jangan-jangan mereka sedang menciptakan Tuhan di benak mereka sendiri?

Ada pelajaran yang menarik dari kisah pewayangan (semoga anda tidak termasuk yang mengharamkan wayang).

Resi Bisma, sesepuh pandawa dan kurawa, jelas-jelas membela Astina dalam perang Bharatayuda, tapi tak seorang pun dari kubu Pandawa mempertanyakan integritas-nya. Mereka mengenal Bisma, dan itu cukup untuk mereka.

Kumbakarna, adik Rahwana, memutuskan untuk mempertahankan Alengka dalam perang antara Rama dan Rahwana, tapi siapa yang berani meragukan kesucian hatinya?

Tidak selamanya orang-orang yang memilki “values” dan prinsip yang sama mengambil jalan yang sama. Begitu juga sebaliknya, tak semua orang yang berada di kubu yang sama memiliki “values” dan prinsip yang sama. Toh, ini bukan tentang “kita melawan mereka” (kecuali bagi mereka yang memang dari awal menganggap ini perang sabil). Lagipula dalam hidup hampir tak ada yang sepenuhnya hitam atau putih. Most things rest in between.

Ada pepatah yang mengatakan “There are two ways to slide easily through life: to believe everything or to doubt everything. Both ways save us from thinking”

Mungkin itu sebabnya fesbuk penuh dengan judgment, karena bagi beberapa orang mikir itu bikin pegel.

Posted in Uncategorized

Menyingkirkan Si Kuping Caplang

Tahukah anda, kenapa kita tidak boleh mendiskriminasi suku, agama dan ras?

Suku, agama dan ras itu seperti bentuk kuping. Bentuk kuping, dalam situasi tertentu, bisa menandai eksistensi seseorang, karena tak seorangpun bisa memilih lahir dengan kuping normal atau kuping caplang seperti saya. Jadi, kalau anda mengatakan bahwa mulai hari ini mereka yang berkuping caplang tidak boleh jadi pemimpin, saya akan marah besar. Karena anda tidak memberi saya pilihan apapun. 

Anda boleh mem-fatwa-kan bahwa orang yang suka ngupil tidak boleh jadi pemimpin. Hari ini saya tinggal berhenti ngupil dan besok mencalonkan diri menjadi gubernur. Nggak akan ada yang merasa terdholimi.

Tapi kalau bentuk kuping? Seberapapun inginnya saya memiliki kuping normal, bentuk kuping saya tak akan berubah. Itu berarti anda sedang menghilangkan eksistensi saya. Anda memojokkan saya pada posisi yang tidak setara sebagai manusia.

Anda ingin tau yang lebih buruk lagi?

Tindakan dholim anda kepada saya akan membangkitkan “sense of existence” sesama pemilik kuping caplang di Indonesia. Mereka yang tadinya nggak terlalu memikirkan politik akhirnya akan terpanggil, karena apa yang terjadi kepada saya dapat juga terjadi kepada mereka. Saya menjadi mereka, dan mereka menjadi saya.

Kualitas kepemimpinan menjadi tak relevan lagi karena akhirnya ini menjadi gerakan membela eksistensi. Apalagi kalau ternyata saya dianggap memiliki rekam jejak dan integritas yang baik.

Itulah sebabnya masyarakat yang beradab lebih memilih sistem meritokrasi. Pemimpin dipilih dari mereka yang memiliki kemampuan dan integritas, bukan dari asal-usul, agama, ras, apalagi bentuk kuping. Karena mereka percaya setiap manusia lahir dengan hak yang sama. Bukankah ini yang diperjuangkan oleh para bapak bangsa, dari Soekarno hingga Nelson Mandela?

Nah, orang-orang yang selama ini anda sebut munafikun itu hanyalah orang-orang yang mencoba berempati dengan mereka yang eksistensi-nya dipinggirkan. Mereka sebenarnya nggak perlu melakukan itu, lha wong mereka juga bagian dari mayoritas seperti anda kok. Tapi mungkin itu yang disebut dengan nurani yang tak tidur.

Anda masih gagal juga memahami ini?

Ya sudah, percayalah, masalah bukan ada pada kepercayaan yang anda yakini, tapi pada empati anda.

Posted in Uncategorized