BPK dan KPK

Seorang teman di fesbuk menyebarkan twit dari salah seorang politisi DPR yang membanding-bandingkan pencapaian BPK dan KPK dalam penanganan korupsi. Pada intinya twit tersebut menganggap hasil operasi tangkap tangan (OTT) KPK adalah “recehan” dibandingkan dengan temuan audit BPK yang nilainya trilyunan. Di bagian akhir rangkaian twit-nya politisi ini juga mengomentari hasil OTT suap seorang jaksa di Bengkulu. Katanya, “10 juta hasil OTT recehan itu bukan uang negara, kenapa heboh?”

Saya tidak ingin berpolemik di bulan ramadhan, ketika orang seharusnya menjaga mulut, pikiran dan tindakan. Tapi saya percaya bahwa menyebarkan kebodohan untuk tujuan politik adalah kejahatan yang harus dilawan. Semoga logika berikut ini membantu menjelaskan mengapa peran BPK dan KPK tidak seharusnya dipertentangkan.

Pertama, pendekatan yang dipakai oleh BPK dan KPK dalam memberantas korupsi sangat berbeda. Tugas utama BPK adalah melakukan pemeriksaan keuangan negara. Jika dalam auditnya ditemukan indikasi korupsi, BPK dapat menindaklanjuti temuan tersebut dengan proses investigasi. Tentu, sebagai auditor, BPK bisa memperkirakan besarnya kerugian negara sejak awal dan menentukan kasus mana yang perlu diprioritaskan berdasarkan materialitas ataupun urgensinya.

KPK, di lain pihak, mengandalkan surveillance dan pengaduan masyarakat. Berbeda dengan audit, petunjuk awal yang didapat melalui metode ini bisa sangat terbatas. Bisa jadi nilai suap baru akan diketahui ketika OTT dilakukan. Yang jelas, apabila kasusnya melibatkan penegak hukum atau auditor negara KPK perlu memberikan prioritas. Kenapa? Ya karena keduanya adalah “the last line of defense” dalam sistem pemberantasan korupsi. Bahwa mereka yang terkena OTT ternyata menjual idealisme-nya untuk ditukar dengan “recehan” tentu sudah lain perkara.

Kedua, Fah… eh, politisi DPR tadi membandingkan besarnya uang hasil OTT KPK dengan besarnya kerugian negara hasil audit BPK. Bener-bener, orang ini bukan cuma perlu piknik, tapi juga asupan gizi yang lebih baik. Auditor boleh saja menetapkan besarnya kerugian negara, tapi pada akhirnya jaksa lah yang harus mempertahankannya di dalam sidang dan hakim yang akan memutuskan. Jadi terlalu dini untuk menganggap angka dalam laporan audit adalah nilai uang negara yang diselamatkan. Di sisi lain, ngga fair kalo kinerja KPK diukur hanya dari besarnya uang suap yang disita. Lah, gimana dengan harta koruptor yang dikejar dan disita melalui mekanisme pelacakan aset? Juga dengan aset hasil tuntutan perdata kepada para pelaku?

Ketiga, dia mengatakan “10 juta hasil OTT recehan itu bukan uang negara, kenapa heboh?”I rest my case. Pantas aja dia gagal memahami seluruh logika yang saya utarakan di atas. Lah, wong memahami moral hazard-nya suap aja dia nggak bisa. Saya menyerah.

Intinya, audit dan surveillance adalah dua metode deteksi korupsi yang dirancang untuk saling melengkapi, bukan untuk dipertentangkan. Demikian juga keberadaan BPK dan KPK. Sedihnya, beberapa profesional audit yang ada di wall saya justru menyebarkan dan mengompori logika aneh ini sambil mem-bully KPK, entah dengan dasar apa.

Mestinya mereka belajar dari Mark Twain, “It is better to keep your mouth closed and let people think you are a fool, than to open it and remove all doubts”.  

Posted in Uncategorized

Same Faith, Opposite Stance

How come two persons who believe in the same Messenger and holy scriptures take a different stance when it comes to inter-religious relationship? 
If you check your facebook timeline, you’ll find people from the same faith (in many

cases, with the same level of observance) posting contradictory statuses. Some share heartwarming stories of tolerance, while the others exploit inter-religious conflicts. The former shows the bright side of diversity, while the latter the dark side of it. 

See, how far the same religion carries two people in the entirely opposite direction?

Like it or not, there are teachings in every religion that may cause conflict due to their exclusivism. Some people would say that it’s because you interpret them textually rather than contextually. May be, but I’m not preaching you on religion or phylosophy subject. All I know, many respected religious leaders (who happen to be not on the run) encourage us to embrace diversity. They even managed to explain the context of the “hostile” part of the religion and come up with a friendly, peaceful interpretations.

Now the choice is all yours, either to see the difference in a positive or negative way. I believe one’s choice represents his/her true character. So if you’re busy telling the world that those who don’t believe what you believe will go to hell, you’re seeing your religion as you are, not as it is. 

I pity you because while others are building bridges, you’re building walls. While others are finding a solution for every issue, you’re finding an issue for every solution.

I believe you need, well… a picnic. 

Posted in Uncategorized

“Quid Pro Quo”

In all fairness, sebaiknya kita tidak terlalu cepat menyimpulkan Amien Rais terlibat dalam kasus korupsi alkes. 

Dalam penanganan kasus penyuapan dikenal istilah “quid pro quo”. Artinya, kira-kira, bantuan atau hadiah yang diberikan karena mengharap balasan yang sebanding. Saya bukan ahli hukum, jadi ngga bisa menjelaskan dengan bahasa yang lebih ilmiah. 

Tapi logikanya kira-kira begini…

Bayangkan anda berada di negara yang menganggap prostitusi sebagai tindak pidana. Suatu malam anda pergi makan malam dengan seorang selebriti cantik, kemudian dilanjutkan dengan bermalam di hotel. Sebelum ke hotel anda singgah ke butik Bottega dan membelikan dia tas seharga Rp30 juta.

Sial, malam itu anda digrebeg oleh polisi dan ditangkap dengan tuduhan menyewa PSK. Polisi tidak menemukan bukti bahwa anda membayar perempuan tersebut, tapi mereka tau anda membelikannya tas mahal.

Mati kita lihat situasi anda.

Kemungkinan pertama, anda benar-benar ada dalam kesulitan, karena tas tersebut dianggap sebagai pembayaran untuk “jasa” yang anda terima malam itu. Keduanya dianggap sebanding, quid pro quo. Jaksa hanya perlu membuktikan bahwa tanpa adanya “jasa” tersebut anda tak mungkin membelikannya tas semahal itu, lha wong kenal juga baru saja. Makan malam mungkin bisa, tapi tas seharga itu? No way.

Kemungkinan kedua, kalau anda bisa membuktikan bahwa perempuan tersebut tunangan, atau minimal pacar, anda. Mungkin anda punya peluang. Pengenaan prinsip quid pro quo jadi kurang efektif kalo ternyata anda dan perempuan itu pacaran. Kalo cuma membelikan “tas mahal” untuk pasangan sih masih wajar, lha wong di India ada sultan yang bikinin istrinya Taj Mahal. Jadi apapun yang anda lakukan di hotel malam itu bukan sesuatu yang sifatnya transaksional. Anda bebas dari sangkaan.

Jadi jangan heran kalo Pak Amien terus menerus mengatakan bahwa Pak SB sudah terbiasa memberi bantuan operasional untuk dirinya. Klaim ini diperlukan untuk membangun persepsi bahwa mereka dekat, sehingga quid pro quo tidak berlaku di sini. Ya semoga saja beliau punya cukup bukti untuk mendukung klaim tersebut. Karena jaksa pasti akan mengeceknya.

Beberapa tahun yang lalu ada selebriti yang hampir dituntut dengan pidana pencucian uang karena menerima hibah hasil korupsi dari seorang politisi. Saat itu dia mengklaim bahwa dia tidak tau mengenai asal-usul uang yang selama ini diterimanya. Mungkin masih bisa dimaklumi karena si selebriti ini memang bukan orang terdidik. Tapi saya ngga tau apakah seorang doktor mantan pejabat tinggi negara bisa memakai argumen yang sama. Yang jelas UU anti-pencucian uang menyebutkan bahwa menerima harta yang “patut diduga” merupakan hasil tindak pidana dapat diganjar dengan hukuman pidana.

Apapun itu, teman-teman, terlalu dini untuk melemparkan tuduhan. Mari bersikap fair dan biarkan KPK bekerja dengan tenang.

Posted in Uncategorized

Selamat Ulang Tahun, Pancasila!

“Si Unyil….”

*Teeeet!*

“Yak, regu B”

“Sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab”

“Benar, 100 untuk regu B!”

Itu adalah sepotong kisah nyata yang terjadi hampir 30 tahun yg lalu. Sebuah regu cerdas cermat P4 tingkat SMP nekat menjawab pertanyaan babak rebutan, bahkan ketika juri baru menyebutkan kata pertama. Dan, ajaibnya, jawabannya benar!

Nah, bingung kan? 

Saya cuma ingin menggambarkan bagaimana Pancasila disebarluaskan dan dipahami pada saat itu. Regu B tadi beranggotakan saya, dan dua teman se-SMP, Mardhiah Hayati dan mas Ary Wardhana. Bagaimana kami bisa yakin jawaban kami benar sekalipun pertanyaan belum selesai?

Satu, karena Mardhiah, juru bicara kami, punya memori fotografik dan tau benar kapan mesti menekan bel. 

Dua, karena soal yang ditanyakan itu sudah kami hapal di luar kepala. Semua peserta cerdas tangkas mendapatkan buku setebal entah berapa ratus halaman untuk dihapalkan. Iya, dihapalkan sampai ke titik koma (I mean literally!). Buku itu berisi semua hal tentang P4. Kami, anak-anak segede termos, dipaksa menghapal habis kajian bikinan doktor-doktor filsafat di BP7 (Badan Perumus P4) yang kerjanya cuma bikin materi penataran. 

Saking kerasnya kami belajar, beberapa hapalan masih hinggap di otak saya sampai sekarang, dan ngga mau pergi. Entah gimana dengan Mardhiah dan Mas Ary.

Itulah gaya indoktrinasi Pancasila di era orba. Menariknya, setelah indoktrinasi yang begitu hebohnya, kita juga tidak menjadi bangsa yg lebih luhur. Kalau dulu pemerintah orba mencanangkan era tinggal landas pada PELITA ke-6, kita justru tinggal amblas kena krisis. Apa yang salah sebenarnya?

Saya nggak punya jawabannya. Yang saya tau, indoktrinasi yang tidak diimbangi dengan tindakan nyata dimanapun selalu bikin orang sebal. Dulu rakyat di negara-negara komunis pun dibikin sebal karena para petinggi partai doyan bicara tentang hidup sederhana tapi pakai arloji Rolex dan punya offshore account. Sama halnya, menjejalkan doktrin agama kepada umat tanpa membumikan nilai-nilainya hanya akan menghasilkan koruptor saleh atau bahkan teroris. 

Indoktrinasi Pancasila berhasil membuat saya hapal tentang si Unyil yang mencuri buah jambu Pak Raden dan melanggar sila kedua Pancasila, tapi tidak sedikitpun membahas hukumnya pejabat yang menerima komisi dari rekanan pemerintah. Apalagi menerapkan prinsip itu dalam pengelolaan APBN/APBD.

Jadi, teman-teman, selamat merayakan ulang tahun Pancasila. Tapi harap diingat, setelah pesta usai kita punya PR besar: membumikan ideologi ini dalam keseharian kita. Jangan ulangi kesalahan orba yang membawa kita berpikir muluk tapi tak melakukan apa-apa.

Don’t be so heavenly minded that you do no earthly good.

Posted in Uncategorized

Afi

Dear Afi,

Saya punya satu pertanyaan buatmu. Hidup seperti apa yang kamu inginkan?

Jika kamu ingin hidup yang nyaman dan harmonis, gampang. Mulai besok, begitu bangun tidur cobalah untuk berpikir sama seperti kebanyakan orang. Tidak usah aneh-aneh. Terima saja bahwa ada hal-hal tak masuk akal yang tidak boleh kamu pertanyakan. 

Kamu pasti pernah mendengar cerita tentang seorang raja tak berbaju yang bertanya kepada para punggawa-nya, apakah pakaiannya bagus. 

Hampir semua orang mengatakan bagus, karena mereka tak ingin dihukum. Supaya terlihat paling setia mereka bahkan mendoktrin dirinya sendiri untuk berpikir bahwa raja tersebut berbaju bagus, sambil mengutuk mereka yang tak percaya. Tak lupa mereka juga saling menguatkan satu sama lain, sehingga lama-kelamaan mereka hanya melihat apa yang ingin mereka lihat.

Sebagian lainnya merasa gelisah, karena tau benar bahwa raja tersebut sebenarnya tak berbaju, tapi mereka tak berani menggugat. Mereka lebih memilih diam.

Tapi ada beberapa orang yang menolak menidurkan nuraninya. Dengan berani mereka mengatakan bahwa raja tersebut sejatinya telanjang. Apa yang mereka dapat? Ya seperti yang kamu alami hari-hari belakangan ini, dimaki dan dicerca. Minimal dikasihani.

Saya membaca tulisan dari beberapa orang yang mengkritikmu, dan saya gagal memahami cara berpikir mereka. Tapi sudahlah, tak perlu dibantah. Lagipula apa gunanya berbantah dengan orang yang nurani dan logikanya tertidur nyenyak?

Jadi, Afi, kini kamu tau akibatnya menjadi orang yang menyuarakan kenyataan bukan?

Tapi belum terlambat. Jika masih ingin hidupmu tentram dan harmonis, mulailah dengan minta maaf. Kemudian belajarlah untuk tidak gelisah. Amini semua yang kamu dengar dari para tetua dan mereka yang dianggap mulia. Jangan berpikir. Jangan bertanya. Juga jangan berempati untuk mereka yang berbeda.

Akan tetapi, jika kamu tak sudi menjadi domba dengan imbalan kenyamanan semu, jangan berhenti. Tetaplah kritis. Percayalah, masa depan tidak terletak di tangan mereka yang menelan semua hal tanpa bertanya. Sejarah mengajarkan, cendekiawan seperti Copernicus dan Galileo Galilei pun dicerca oleh orang-orang yang lebih suka memeluk doktrin daripada membuka mata.

Semoga Allah SWT menyertaimu.

Posted in Uncategorized

Selamat Hari Buruh!

Sekedar informasi untuk teman-teman yang sudah mulai mabok dengan wacana soal bunga…

Tanggal 1 Mei diperingati sebagai hari buruh untuk mengenang peristiwa demo para pekerja di Chicago pada tahun 1886, yang memakan korban jiwa. Demonstrasi itu dilakukan untuk menuntut pembatasan waktu kerja menjadi 8 jam sehari. Pada saat itu seorang buruh bisa bekerja 10-16 jam sehari, 6 hari seminggu tanpa uang lembur.

Jadi kalau anda adalah pekerja kerah putih yang mengomel karena demo buruh setiap tanggal 1 Mei, ingatlah bahwa jam kerja plus hak cuti tahunan yang anda terima selama ini bukan turun dari langit. Hak anda itu diperjuangkan dengan cara yang, untuk jaman sekarang, mainstream, tapi 130 tahun yang lalu nyawa taruhannya.

Bagi anda yang sensi dengan semua yang berbau komunisme, mungkin perlu mempertimbangkan untuk tetap bekerja pada tanggal 1 Mei. Kenapa? Ya karena yang merintis demo Chicago itu organisasi komunis internasional. Ini beneran, bukan kayak kasus logo di duit kertas yang mirip palu arit. Ini kuminis beneran loh, jadi jangan bilang anda tidak diingatkan ya.

Nah, selamat hari buruh bagi anda yang merayakan. Yang tidak merayakan, mohon toleransinya.

Posted in Uncategorized

Demokrasi dan Pilihan Kita

“Democracy is a device that ensures we shall be governed no better than we deserve”

Itu kata George Bernard Shaw. Intinya, anda bebas memilih pemimpin yang anda inginkan. Tentu saja kualitas hidup anda sebagai rakyat nantinya akan sangat tergantung pada kedewasaan dan kecerdasan anda dalam memilih. 

Pada jaman Orba, kita bisa menyalahkan sistem politik yang menghasilkan pemimpin yang korup. Tapi sekarang kita nggak punya alasan untuk menyalahkan siapapun. Negara memfasilitasi pilkada yang bebas dan tanpa paksaan.

Banyak yang sebal ketika Anis Baswedan bilang bahwa dalam pilkada ini orang bebas memilih dengan alasan apapun. Tapi menurut saya dia benar. Hanya saja seharusnya dia menambahkan “…karena toh para pemilih sendiri yang menanggung konsekuensinya.” 

Jadi silakan memilih pemimpin daerah dengan alasan kesamaan agama, suku, hobi, atau klub sepak bola. Toh anda sendiri yang nantinya akan menikmati kinerja pilihan anda tersebut.

Terima kasih kepada beberapa daerah yang telah memberikan contoh seperti apa konsekuensi pilihan yang salah. Mulai dari kas daerah yang kosong, pelayanan publik yang memble, sampai dinasti korup yang menggurita.

Apakah rakyat yang didholimi oleh kepala daerah yang mereka pilih perlu dikasihani?

Rasanya sih nggak perlu.

Satu, karena itu pilihan mereka sendiri.

Dua, karena tidak semua orang benci disakiti. Makanya muncul istilah masokisme.

Jadi, warga Jakarta, selamat memilih dengan bijak. Kalo pilihan anda menang tapi kinerjanya ngaco, jangan komplain, because that’s what you deserve. Yang boleh komplain itu saya, orang Tangsel yang bekerja di Jakarta dan harus pasrah pada pilihan anda.

Saya cuma bisa berdoa, semoga kecerdasan Jakarta berbanding lurus dengan gayanya selama ini.

Posted in Uncategorized